Rabu, 26 Mei 2021

PEMAPARAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI BIDANG PERTANIAN - M Luthfi Charismanda (19025010034)

 PENGERTIAN DAN MANFAAT SIG DI BIDANG PERTANIAN



KELAS: AGROTEKNOLOGI A 2019

NAMA KELOMPOK:

- M LUTHFI CHARISMANDA     (19025010034)

- DIAN AJENG SAFITRI               (19025010040)

- TRI YULI ANITA                         (19025010043)


Share:

Rabu, 31 Maret 2021

IMPLEMENTASI SERTA KEKURANGAN DAN KELEBIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Tugas Terstruktur Sistem Informasi Geografis

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

 

IMPLEMENTASI SERTA KEKURANGAN DAN KELEBIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

M. Luthfi Charismanda / 19025010034

PENDAHULUAN

Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan system yang membantu menganalisis, memetakan, memanajemen, menampilkan, memanipulasi data yang yang nantinya untuk penyelesaian rencana kompleks dan permasalahan manajemen terkait dengan geografis suatu lokasi. SIG berfungsi sebagai pengolah data yang diikat dengan posisi geografi dan pemanfaatan computer untuk sarana penyimpanan dan pengolahan (Burrough, 1986).

Sistem Informasi Geografis (SIG saat ini banyak dimanfaatkan antara lain untuk pemetaan lahan pertanian, pengelolaan sumber daya alam, lingkungan (jalan, sungai, geologi dan sebagainya), perencanaan dan manajemen transportasi dikarenakan kemampuannya dalam memproses data spasial yang dapat digunakan untuk membuat peta dan menganalisis informasi didalamnya baik dalam bentuk geografis.

Teknologi sistem informasi geografis dimanfaatkan dalam investigasi sains, pengelolaan manajemen, pengembangan perencanaan, cartography, perencanaan jalan (Hocstra, 2012). Misalnya, SIG dapat membantu perencana untuk menghitung dengan cepat waktu tanggap darurat selama bencana alam (Smara et al, 2012), atau SIG dapat juga digunakan untuk menemukan lahan basah mana yang perlu untuk dilindungi dari polusi. SIG merupakan system, menyerupai perangkat keras, perangkat lunak, data, prosedur dan  konteks organisasi yang tepat yang mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, menganalisis, memodelkan dan memvisualisasikan, data spasial, untuk menyelesaikan masalah perencanaan dan manajemen (Lanto et al, 2018).

Perbedaan paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem informasi pengguna biasanya termasuk beberapa data seperti peta, transparansi untuk tumpang tindih (overlay), foto udara, laporan statistik dan survei lapangan laporan. Semua data dikumpulkan dan dianalisis secara manual tanpa peralatan komputer. Sementara Geografis otomatis Sistem informasi telah menggunakan komputer sebagai sistem pengolah data melalui proses digitasi. Sumber data dapat berupa citra satelit digital atau foto udara digital dan foto udara digital. Data lain dapat berupa peta dasar digital (Rob, 2013).

Kemunculan Sistem Informasi Geografis ini memberikan dampak yang sangat besar. Sistem Informasi geografis mampu memecahkan berbagai permasalahan yang mungkin di masa lalu adalah hal sangat sulit dan memerlukan proses yang panjang dengan tingkat akurasi yang bisa dibilang rendah. Jika dilihat dari bidang pertanian saja, SIG ini sangat membantu dalam pemetaan tanah, mengolah data terkait lahan dan sebagainya. Informasi spasial yang dihasilkan oleh SIG inilah yang dibutuhkan dalam bidang pertanian untuk mengevaluasi, merencanakan, mengolah lebih terstruktur dan tepat. Hal yang penting untuk diperhatikan bahwa fokus penggunaan SIG lebih dikonsentrasikan pada analisis pokok permasalahan yang dikaji dan di implementasikan dengan baik.

IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

            Sistem Informasi Geografis dalam pengimplementasiannya untuk saat ini masih sangat baik. Contoh yang bisa dilihat adalah pada permasalahan pertanian. Dengan adanya perkembangan zaman, perubahan geografis, perubahan iklim dan sebagainya membuat seluruh bidang di dunia ikut bergerak, berevolusi, bahkan merevolusi baik dari segi metode pengerjaan, pengembangan metode dan sebagainya. Teknologi Pertanian Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan ini sejalan dengan tuntutan global yang memang memaksa Indonesia harus membuat banyak perubahan dalam bidang teknologi pertanian. Perkembangan ini meliputi proses produksi di hulu hingga pengolahan di hilir. Banyak aplikasi teknologi yang digunakan dalam industry pertanian modern di Indonesia yang bertujuan untuk mencapai hasil yang tinggi dengan biaya produksi yang rendah serta dapat mengurangi dampak pada lingkungan. Mengatasi permasalahan tersebut maka diperlukan precision farming karena sumber daya produksi pertanian terbatas (sumber daya air, tanah, pupuk, manusia dan factor produksi lainnya) sudah berkurang baik dari segi kualitas dan kuantitas. Berbagai faktor yang dianggap bertanggung jawab terhadap penurunan kualitas dan kuantitas antara lain : jumah penduduk yang semakin bertambah, penggunaan lahan pertanian untuk penggunaan bukan pertanian, erosi dan degradadi lahan, dan berbagai sebab lain yang menjadikan lahan mengalami penurunan kualitas dan kuantitas.

            Berbicara perihal pertanian presisi akan berhubungan dengan presisi lokasi, dan SIstem Informasi Geografis. Sistem Informasi Geografis akan berkaitan dengan variable tingkat pupuk, pemetaan hasil panen, variable tingkat pengolahan, variable tingkat penanaman, variable tingkat irigasi, variabilitas sifat-sifat tanah, zone homogeny untuk pengolahan pertanian presisi.

Dari hubungan hubungan tersebut untuk penilaian variabilitas menjadi aspek mendasar dalam pertanian presisi karena tahap ini akan menentukan tahap-tahap selanjutnya. Sistem Informasi Geogrfais (SIG) telah banyak diterapkan untuk penilaian variabilitas (Kavianpoor, et al, 2012: Patil, et al, 2011; Sivarajan, et al, 2013, Zandi, et al, 2012). Berbagai studi tersebut memiliki tujuan terutama untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat tanah dengan pertumbuhan dan produktifitas tanaman. Beberapa sifat tanah yang dianalisis misalnya : pH. C Organik, kapasitas lapang, kapasitas layu (wilting point), daya hantar listrik, fospor, nitrogen, dan sifat-sifat tanah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan dan produktifitas tanaman.

Menurut Robinson dan Metternichter (2006), berbagai teknik analisis dalam Sistem Informasi Geografis sudah, sedang dan nampaknya akan terus digunakan, anatara lain teknik interpolasi kriging, spline, dan inverse distance weighting. Dari berbagai stdui tersebut juga memberikan kesimpulan bahwa tidak ada satu teknikpun yang dapat berlaku menyeluruh, dan pemilihan teknik interpolasi yang digunakan akan sangat tergantung pada kondisi variabilitas sifat-sifat tanah di lapang.

Dari penjelasan diatas bisa dilihat bahwa sebenarnya untuk mencapai pertanian presisi diperlukan data yang sangat banyak dan bervariasi. Banyaknya data dan bervariasi tersebut dikarenakan dalam pertanian presisi berkaitan dengan data spasial dan data temporal. Kemampuan SIG dalam melakukan berbagai analisis data keruangan serta kemampuan dalam menyimpan data dalam jumlah yang besar telah membuat SIG alat yang handal dalam pertanian presisi, seperti dikemukakan oleh Pierce dan Nowak (1999) yang menyatakan bahwa karena kenyataan bahwa pertanian presisi berhubungan dengan variabel-variabel keruangan dan temporal dan karena pertanian presisi merupakan sistem pertanian berbasis data maka kemampuan analisis keruangan SIG lah yang memungkinkan pertanian presisi.

Contoh lain dalam pengimplementasian Sistem Informasi Geografis adalah dalam penggunaannya untuk pemetaan hasil sumber daya hutan dan reboisasi. Untuk melakukan pengontrolan, pengawasan, pengurusan, pengusahaan, perlindungan hutan tidak mungkin hanya memanfaatkan tenaga manusia. Dari sini SIG berperan untuk membantu memetakan mana wilayah yang perlu pengawasan tinggi, wilayah yang perlu direboisasi, wilayah yang dapat menghasilkan produksi sumber daya hutan. Pemetaan wilayah berdasarkan ketinggian tanah, iklim yang nantinya akan disesuaikan dengan pohon-pohon yang ditanam di daerah tersebut. Dengan teknik overlay (tumpang tindih peta) akan dilakukan pengecekan apakah sudah sesuai pohon-pohon tersebut atau belum sesuai, dengan di overlay dengan peta ketinggian tanah dan daerah rawan longsor, sehingga diketahui pohon mana yang cocok ditanam di kawasan yang akan diamati. Dari hasil teknik overlay tadi akan menghasilkan peta rencana reboisasi yang dapat di jadikan acuan untuk reboisasi yang akan dilakukan guna mendapatkan hasil produksi.

IMPLEMENTASI MASYARAKAT

Dengan datangnya sebagian besar teknologi baru juga muncul potensi dampak, baik positif maupun negatif, pada masyarakat di mana teknologi tersebut digunakan. Sistem Informasi Geografis tidak ada bedanya. Misalnya, Sistem Informasi Geografis telah digunakan selama beberapa tahun di negara maju seperti Amerika Serikat dan Britania Raya untuk aplikasi politik dan kebijakan publik. Karena teknologi SIG menyebar ke lebih banyak pemerintah dan organisasi bisnis, peningkatan manfaat sosial yang diperoleh dari pengambilan keputusan dan perencanaan yang lebih efisien dan efektif harus direalisasikan. Misalnya, salah satu penulis [BEM] saat ini bekerja dengan Institut Pelatihan Informasi Pasar Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja untuk membawa Sistem Informasi Geografis ke kantor Keamanan Ketenagakerjaan Negara. Sistem Informasi Geografis dicari oleh agen-agen ini untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada para pengangguran dan memberikan pekerjaan di setiap negara bagian.

Demikian juga, karena SIG menyebar ke negara-negara terbelakang, penelitian harus berfokus pada bagaimana perbedaan budaya, aksesibilitas data, pendidikan pengguna, dan sistem politik mempengaruhi penggunaan, efektivitas, dan difusi SIG (Rhind, 1992)

Selain itu, karena SIG semakin banyak digunakan di sektor publik, masyarakat juga harus mendapatkan keuntungan karena peningkatan akses dan ketersediaan data yang dihasilkan melalui lembaga sektor publik. Misalnya, data yang dihasilkan oleh Biro Sensus telah menjadi dasar, dan pendorong di balik banyak pertumbuhan baru-baru ini dalam penggunaan SIG di Amerika Utara. Penelitian masa depan harus fokus pada bagaimana penggunaan SIG sektor publik dan produksi data mempengaruhi sektor swasta dan bagaimana organisasi mengelola proses pengimplementasiannya.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Teknologi Sistem Informasi Geografis dalam bidang teknik lingkungan banyak digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah proses pengambilan keputusan terkait dengan pengelolaan lingkungan yang menyangkut wilayah, geospasial dan sebagainya. Berbagai masalah lingkungan yang kompleks dapat disajikan secara lebih sistematik dan mudah dipahami, karena kunci utama Sistem Informasi Geografis adalah semua objek dipermukaan bumi memiliki koordinat sebagai referensi lokasi. Teknologi SIG juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah lingkungan secara lebih cepat, sehingga analisis masalah lingkungan juga dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien. Hal terpenting dari beberapa kelebihan SIG dibidang teknik lingkungan adalah kemampuanya dalam memberikan beberapa alternatif untuk menyelesaikan masalah-masalah lingkungan, tepat pada akar permasalahanya. Banyak sekali seperti yang sudah dipaparkan diatas implementasinya dari segi pertanian dan kehutanan. Dalam segi kepemerintahan, untuk memetakan perusahaan, memetakan wilayah tentu sangat berguna dengan tingkat akurasi yang dikerjakan system juga pasti.

Terlepas dari banyak sekali implementasi Sistem Informasi Geografis, pun tetap Sistem Informasi Geografis memiliki kekurangan. Banyak sekali apalagi di negara berkembang seperti Indonesia yang masih sedikit asing dengan kemajuan teknologi apalagi dalam penerapannya. Sistem Informasi Geografis memang dijadikan alternatif untuk pemecahan-pemecahan masalah lingkungan yang ada, mungkin bisa jadi tepat pada akarnya. Jika dikatakan efektif, Sistem Informasi Geografis ini sangat efektif dan efisien terhadap waktu. Namun, yang jadi kendala diantara lain adalah ketersediaan database, penguasaan manusia dalam mengelola perangkat lunak (software) serta kemampuan analisis spasial terhadap hasil. Selain itu, penting juga diperhatikan bahwa ketersediaan database yang relevan dengan topik teknik lingkungan, tutorial penggunaan software, contoh studi kasus, dan contoh teknik analisis, perlu dipersiapkan secara lengkap dan sistematis agar mudah digunakan dan dipelajari.

Dengan meningkatnya penggunaan SIG dan aksesibilitas data, muncul potensi dampak negatif bagi masyarakat. Misalnya, masalah yang berkaitan dengan kesalahan dan misrepresentasi data spasial dan data demografis berpotensi mengakibatkan tanggung jawab hukum bagi pemasok dan pengguna data (Epstein, 1991). Selain itu, peningkatan akses ke data yang berkaitan dengan warga negara dan organisasi sektor swasta juga berpotensi menyebabkan penyalahgunaan dan misrepresentasi.

Kendala terakhir terkait dengan kemajuan teknologi penginderaan jauh (remote sensing). Penginderaan jauh menyediakan banyak sekali variasi data lingkungan, mulai dari data iklim, relief, vegetasi, penutup lahan, jaringan jalan, jaringan sungai, dan masih banyak lagi data lainya. Namun, dalam proses pengambilan variasi data memerlukan data yang sangat banyak, cara memperoleh data yang sulit dan butuh waktu yang lama, belum lagi diterpa dengan biaya yang tempuh untuk mendapatkan data-data variablenya. Hal ini akan jadi pertanyaan bagi orang-orang yang hendak menggunakan metode Sistem Informasi Geografis ini apalagi untuk orang yang tidak spesialis teknologi Sistem Informasi Geografis. Oleh karena itu, penyediaan fasilitas untuk menunjang informasi-informasi tentang data penginderaan jauh juga menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Pada masa yang akan datang, penggunaan teknologi Sistem Informasi Geografis menjadi salah satu kunci penting untuk menyelesaikan permasalan-permasalahan lingkungan yang semakin komplek dihadapi. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki teknologi Sistem Informasi Geografis, diharapkan penyelesaian permasalahan lingkungan dapat terlaksana dengan lebih efektif dan efisien. Namun perlu juga diperhatikan bahwa harus ada upaya yang sistematis untuk mengatasi kendala dan kelemahan Sistem Informasi Geografis bagi pengguna yang bukan merupakan spesialis teknologi Sistem Informasi Geografis.

KESIMPULAN

SIG penting karena kemungkinan besar akan menjadi bagian integral dari banyak sistem informasi. Sebagian besar masalah di berbagai bidang (terutama pertanian) mencakup data spasial yang signifikan, sehingga SIG merupakan alat yang ampuh yang dapat digunakan untuk membantu mengambil keputusan yang nantinya mengajukan dan menjawab pertanyaan yang tidak dapat mereka tangani sebelumnya. Karena teknologi ini terus menyebar ke sektor swasta, para peneliti sistem informasi harus siap menyumbangkan keahlian mereka untuk menghasilkan pemahaman yang lebih baik tentang teknologi ini.

Implementasi Sistem Informasi Geografis sangat banyak dan memiliki dampak yang sangat besar pula. Sistem Informasi bergerak cepat di berbagai sector, namun hanya sedikit orang yang aktif  melakukan riset perihal system informasi dan teknologinya. Perlu diperbanyak perihal penelitian agar lebih banyak lagi informasi tentang pengelolaan Sistem Informasi Geografis melalui tahap implementasi dan operasional dari siklus hidupnya. Selain itu, penelitian perlu mengkaji masalah yang terkait dengan dampak organisasi dari SIG, masalah kolaboratif, efektivitas pengambilan keputusan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan kognisi manusia. Terakhir, banyak yang perlu dilakukan untuk memeriksa dampak sosial dari GIS di negara maju dan berkembang.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

D. Hocstra and P. Mattejat, "Manage Drainage Infrastructure," Public Work, vol. 133, no. 5, 2012.

Epstein, E.F. (1991). Legal aspects of GIS. in D.J.Maguire, M.F.Goodchild, & D.W. Rhind (eds.), Geographic Information Systems: Principles and Applications, Vol. 1, London: Longman Scientific & Technical, 489-502.

M. Rob, "Application of Geographical Information Systems in Understanding Spatial Distribution of Asthma," Informing Science Journal, vol. 6, no. 1, 2013

N. Lanto, L. Hadjaratie and S. Suhada, "The Influence of Organizational Culture in Application of Information Technology Governance," Journal of Information System Engineering and Business Intelligence, vol. 4, no. 1, April 2018.

Rhind, D. (1992). Data access, charging and copyright and their implications for geographical information systems. International Journal of Geographical Information Systems, (6:1), 13-30

Y. Smara and et.al, "Application of SIG and Remote Sensing Technologies in Disasters Management in Algeria," International Journal of Innovative Research in Science, vol. Vol. 1, no. Issue 10, 2012.

  

Share:

Selasa, 29 Desember 2020

BELA NEGARA



Bela Negara dilandasi oleh konstitusi kita yakni UUD 1945 pasal 27 ayat 3 “Setiap Warga Negara Berhak dan Wajib Ikut Serta Dalam Upaya Pembelaan Negara“ dalam hal ini setiap warga negara mempunyi kewajiban yang sama dalam masalah pembelaan negara baik fisik maupun non fisik.


Konsepsi bela negara merupakan sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaanya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara (UU No 3 tahun 2002, pasal 9)

Semua pengertian/pemahaman ini tidak akan berguna apabila tidak ada implementasi di kehidupan sehari-hari dari konsepsi nilai nilai bela negara tersebut.

#upnveteranjatim #upnkampusbelanegara
Share:

Kamis, 19 Maret 2020

UTS Pertanian Perkotaan


UTS Online Mata Kuliah Pertanian Perkotaan
Nama: Muhammad Luthfi Charismanda
Kelas: Agroteknologi A
NPM: 19025010034
1.    Judul: Ruang Terbuka Hijau di Pinggiran Kali Jagir
Ruang Terbuka Hijau ini merupakan RTH yang memanfaatkan lahan kosong pinggiran Kali Jagir, Surabaya. Pinggir sungai/kali identik dengan tempat yang kumuh atau hanya sebatas berupa tembok-tembok penahan agar tidak longsor. Namun, lahan ini dirubah sedemikian rupa agar menjadi RTH yang cocok untuk ditempatkan di daerah Jagir, Wonokromo karena berada di daerah yang ramai lalu lalang kendaraan bermotor (daerah perkantoran, Pasar Mangga Dua, Darmo Trade Center, Stasiun Wonokromo). RTH ini menghilangkan kesan kumuh, dan memberikan kesan indah dan estetik dengan adanya tanaman-tanaman, dudukan untuk mengobrol serta lampu-lampu taman. RTH ini cocok untuk menghilangkan penat dari hiruk-pikuk perkotaan. Namun, RTH ini memiliki kekurangan yaitu tidak adanya tempat parkir untuk kendaraan bermotor serta tempat sampah yang terbatas sehingga ada beberapa orang yang membuang sampahnya di sungai/kali atau bahkan di daerah RTH.
2.    Menurut saya, dalam mewujudkannya perlu sinergitas antara pemerintah dengan masyarakat. Pemerintah tentu akan membantu masyarakatnya karena dalam pembentukan RTH akan menaikkan sosial-ekonomi rakyatnya. Pemerintah dapat membantu lewat penyediaan lahan untuk dikembangkan rakyat, mengedukasi masyarakat tentang cara mengembangkan, memanfatkan, serta memelihara RTH, membuat RTH yang dapat dinikmati, dimanfaatkan rakyatnya, serta bermanfaat sebagai penyeimbang perkotaan (sebagai factor ekologis).
Dari sisi masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran yang mana sangat penting. Kesadaran untuk  merawat, memelihara, memanfaatkan, serta mengembangkan RTH. Seperti yang saya temukan di daerah Surabaya, ada kelompok tani yang hanya mengembangkan RTH hanya ketika ada perlombaan dari pemerintah, setelah perlombaan itu masyarakat mulai malas atau bahkan lupa untuk mengurus RTH itu. Padahal RTH itu jika ditekuni dan dimanfaatkan dengan baik dapat menaikkan taraf sosial-ekonomi masyarakat itu sendiri, dari sisi ekologis juga lebih sehat bagi daerah tersebut karena lebih banyak tanaman hijau, dari sisi estetika meningkatkan keindahan dan menghilangkan kesan kumuh pada daerah tersebut. Dari sini masyarakat perlu kesadaran, ketika pemerintah sudah memberikan maka masyarakat harus memanfaatkan dengan baik agar ada timbal balik dan hasilnya dapat dinikmati bersama.
3.    Menurut saya, RTH ini tidak bisa dihiraukan begitu saja. Dari sisi pemerintah dalam pembentukan tata letak kota perlu dikaji ulang untuk menyisakan 30% kawasannya agar dapat digunakan sebagai Ruang Terbuka Hijau, perlu adanya peraturan yang ketat untuk urusan perizinan pembangunan agar tidak adanya kerusakan ekologis serta ekonomis di daerah perkotaan.
Dari sisi masyarakat perlu adanya kesadaran untuk mengembangkan dan memanfaaatkan RTH seperti menyisakan setidaknya 20-30% lahan rumahnya untuk Ruang Terbuka Hijau pribadi.  
4.    Kendala pengembangan pertanian perkotaan yang ditemukan yaitu:
·         Luasan lahan yang semakin sedikit;
·         Sirkulasi udara yang buruk karena sektor industry;
·         Cemaran logam berat pada saluran air/sungai;
·         Keterbatasan teknologi dan pengetahuan;
·         Kurangnya kesadaran masyarakat.
Solusi dan strategi yang diciptakan yaitu:
·         Mulai menetapkan status hukum untuk RTH;
·         Adanya inovasi untuk pengolahan limbah organik menjadi media tanam, pengolahan air limbah sebagai air penyiraman;
·         Menerapkan sistem budidaya hemat (vertikultur, aquaponik, hidroponik, green house, roof garden);
·         Meningkatkan kesadaran serta keaktifan masyarakat akan pentingnya Urban Farming bagi sosial-ekonomi, ekologi serta estetik.
5.    a. Peneduh: Pohon Beringin, Pohon Mangga, Pohon Angsana, Pohon Mahoni, Pohon Asam jawa
b. Penyerap polusi udara: Lidah Mertua, Puring, Pucuk Merah, Kembang Sepatu, Palem Kuning
c. Peredam kebisingan: Pucuk Merah, Tanaman Imodia, Soka, Walisongo, Furing Tissue
d. Pemecah angin: Akasia, Mahoni, Flamboyan, Cemara Laut, Beringin
6.    a. Taman Lingkungan dan Taman Kota: Pohon Asam Jawa, Pohon Angsana, Pohon Mahoni
b. Pengundang Burung untuk Hutan Kota: Damar, Randu, Beringin
c. Sabuk Hijau: Bambu, Ketapang, Waru
d. Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki: Tabebuya, Kersen, Trembesi
e. RTH Sempadan Sungai: jenis rumput vetiver atau rumput akar wangi, jenis karangkungan, bambu dan tanaman berkayu (pohon).



Share:

Rabu, 04 Maret 2020

Pertanian Perkotaan


Ruang Terbuka Hijau di Pinggiran Kali Jagir
A9 / M. Luthfi Charismanda / 19025010034

Pendahuluan
Perkotaan sangat erat kaitannya dengan industri, pabrik, perkantoran, gedung-gedung pencakar langit dan yang sangat sering menjadi bahan pembicaraan adalah tingkat polusi yang tinggi. Pada daerah perkotaan polusi berasal dari berbagai hal mulai dari asap pabrik hingga asap kendaraan bermotor. Kondisi tersebut belum lagi diperparah dengan pembangunan tanpa henti yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, akibatnya banyak masyarakat di kota-kota besar tidak dapat menikmati lingkungan yang asri dan hijau dikarenakan terbatasnya tempat-tempat terbuka seperti itu. coba bayangkan, apabila di suatu kota hanya berisi pabrik-pabrik dan gedung-gedung tinggi tanpa ada satupun tempat terbuka, taman maupun pepohonan maka sudah dipastikan tingkat polusi sangat tinggi, masyarakat menjadi tidak nyaman dalam beraktivitas hingga kemungkinan datangnya berbagai macam penyakit, terutama penyakit- penyakit yang menyerang saluran pernafasan. Untuk itu, guna mengurangi dampak dari polusi tersebut pemerintah menetapkan peraturan dan ketentuan agar kota memiliki 30 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang diatur melalui Undang-undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, yang mengatur proporsi RTH pada setiap kota, yakni paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota. Tetapi kenyataannya tidak banyak kota besar di indonesia yang menjadikan 30 persen dari luas wilayahnya menjadi ruang terbuka hijau bahkan jumlahnya jauh dibawah angka 30 persen. Data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan bahwa sampai saat ini, baru 13 dari 174 kota di Indonesia yang mengikuti program kota hijau, memiliki porsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) 30 persen atau lebih.
Kota Surabaya termasuk kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta dengan luas 350,5 Km2 . Surabaya juga dikategorikan sebagai kota yang wajib memiliki ruang terbuka hijau 30 persen dari luas wilayahnya. Tetapi menurut Informasi Kinerja Pengelolaan Hidup Daerah (IKPLHD) Kota Surabaya tahun 2016, kota Surabaya mempunyai RTH seluas 7.268,45 Ha atau 21,73 persen dari total luas wilayah kota. Jumlah Ruang Terbuka Hijau di Surabaya memang belum memenuhi target, tetapi pemerintah kota Surabaya terus berupaya membangun taman-taman dan ruang terbuka hijau lainnya, agar kota Surabaya dapat memenuhi target RTH sebanyak 30 persen. Dilansir dari bisnis.com kota Surabaya pada tahun 2019 dipastikan secara total mempunyai 613 taman yang diyakini mampu menurunkan suhu udara. Selain itu pada tahun 2019 pula, masih ada 159 taman pasif dan 30 taman aktif yang masih terus dalam proses pengerjaan. Ruang terbuka hijau yang terdapat di Surabaya diantaranya dapat berupa hutan kota, taman kota, jalur hijau, lapangan, kebun, sawah dan sebagainya. Pembangunan ruang terbuka hijau di Surabaya selain untuk membuhi target RTH, juga diharapkan dapat memberi kenyamanan kepada warga kota, selain itu diharapkan pula warga dapat turut menjaga kelestarian lingkungan dan kelestarian taman-taman tersebut.
Salah satu lokasi yang menjadi ruang terbuka hijau adalah sebuah taman kota yang berada di jalan Jagir Wonokromo. Ruang terbuka hijau ini berada berupa taman kota yang berada di pinggiran sungai jagir atau warga Surabaya biasa menyebutnya dengan kali jagir. Taman ini membentang sepanjang kurang lebih satu kilometer. Jalan Jagir Wonokromo berada disepanjang aliran sungai jagir. Jalan ini juga merupakan pusat aktivitas masyarakat karena terdapat banyak tempat fasilitas publik yang berada di sepanjang jalan ini seperti kantor dinas, pasar jagir, hingga ruko pertokoan. Hal tersebutlah yang menyebabkan jalan Jagir menjadi jalan yang selalu ramai oleh kendaraan.

lokasi RTH Jagir, Wonokromo

Ruang Terbuka Hijau dan Letaknya yang Ada di Pinggiran Kali

Taman kota di jalan Jagir Wonokromo ini seperti taman kota-kota lainnya yang fungsinya adalah mempercantik perkotaan, menambah kesan asri dan sejuk, serta menghilangkan kesan kumuh karena tempat RTH ini berada ditepi aliran sungai Kali Jagir yang dahulunya terlihat kumuh. Taman kota ini juga berada disekitaran Stasiun Wonokromo, Darmo Trade Center, serta Pasar Mangga Dua yang notabene merupakan tempat-tempat ramai lalu lalang kendaraan bermotor. Selain itu terdapat juga banyak gedung perkantoran dan komplek bangunan apartemen.
Adanya Ruang Terbuka Hijau ini sangat membantu sirkulasi udara yang ada di perkotaan. Pada pengamatan kami, fokus utama adanya Ruang Terbuka Hijau ini adalah sebagai tempat untuk me-refresh dan menyegarkan kembali energi dan pikiran setelah selesai menjalani  kegiatan sehari-hari  bagi orang-orang perkotaan. Karena ketika masuk ke dalam RTH ini terlihat kesan nyaman, yang benar-benar fresh karena hembusan angin yang sejuk serta adanya tanaman-tanaman hias yang memanjakan mata ditanam di RTH tersebut. Walaupun RTH ini terletak tepat di tepian jalan dan di seberang pusat perbelanjaan Mangga Dua, tapi RTH ini cocok bagi karyawan atau pengendara yang hendak berhenti sejenak menikmati minuman atau jajanan (membawa sendiri, tidak ada pedagang di RTH ini) dengan angin yang berhembus serta berbincang santai dengan teman. Karena pada RTH ini juga disediakan tempat duduk yang nyaman.
Ruang Terbuka Hijau ini tidak sama seperti taman-taman kota lainnya di Surabaya. RTH ini memanjang karena berada ditepi sungai dan lumayan luas untuk sekedar jalan-jalan refreshing setelah penat bekerja atau dijalan. Dan mungkin juga dapat digunakan untuk berfoto karena RTH ini termasuk memiliki tatanan indah, yang merupakan perpaduan antara berbagai jenis tanaman hias berwarna-warni dan juga lampu-lampu taman yang dipasang di sepanjang RTH Jagir. Bentuk jalan setapaknya juga sangat indah dengan terdapat banyak tanaman hias di tepian dan dilindungi oleh tajuk - tajuk pepohonan kota. Untuk tempat duduknya sendiri didesain sedemikian rupa agar bisa melihat sungai dan juga jalanan kota.

Tanaman-tanaman yang ada di RTH Jagir
Tanaman-tanaman yang berada di RTH Jagir ini sangat beraneka ragam mulai dari jenis, hingga warnanya. Kami mengidentifikasi tanaman-tanaman yang ada dan menemukan banyak sekali jenis tanaman hias yang kaya akan manfaat di RTH jagir  ini diantaranya adalah sebagai berikut:
       Bunga Melati
Tanaman ini selain digunakan bunganya untuk diproduksi sebagai produk kecantikan serta produk minuman teh, tanaman ini juga berfungsi untuk mempercantik Ruang Terbuka Hijau. Tanaman bunga melati termasuk tanaman perdu yang merupakan salah satu dari tiga tanaman bangsa. Bunga melati juga mengeluarkan aroma yang wangi sehingga menambah kesegaran yang ada pada RTH Jagir.
       Bunga Tasbih
Bunga ini merupakan salah satu tanaman hias yang mempercantik lingkungan taman dengan warnanya yang hijau dengan daun lebar dan memanjang serta bunga yang berwarna merah.
       Tanaman Sri Rejeki (Aglaonema)
Tanaman suku talas-talasan ini populer karena selain sebagai tanaman hias, tanaman ini juga merupakan salah satu tanaman yang dapat mengatasi berbagai polutan. Tanaman ini mempunyai efek anti-bakteri dan antioksidan.
       Lidah Mertua
Tanaman ini memiliki daya adaptasi yang tinggi dan tahan kekeringan. Lidah Mertua mengandung pregnan glikosid, bahan aktif yang berguna untuk mengurangi polutan menjadi asam amino, gula, dan asam organic. Dengan demikian, polutan tersebut tidak lagi berbahaya bagi manusia. Selain itu, lidah mertua juga bisa menyerap radiasi dari peralatan-peralatan elektronika yang ada di sekitarnya.
       Tanaman Puring
Seperti yang telah diketahui sebelumnya, Kota Surabaya saat-saat ini sering dijuluki sebagai kota yang panas karena sinar mataharinya yang sangat terik. Karena hal itulah, tanaman-tanaman yang ditanam di RTH Jagir ada yang difungsikan agar dapat meneduhkan mata dari silaunya sinar matahari di Surabaya, yaitu Tanaman puring yang semakin banyak menerima cahaya maka daunnya akan memancarkan warna yang lebih kuat dan dinamis. Sehingga membuat tanaman ini lebih enak dan nyaman saat dipandang dan tak jarang sudah banyak sekali taman-taman kota di berbagi tempat menggunakan tanaman puring  sebagai tanaman hias. Selain itu, tanaman puring juga berfungsi untuk mengurangi polutan. Berbagai jenis tanaman puring dengan beraneka warna dan corak ditanam di RTH Jagir, diantaranya adalah puring anggur, puring bor, puring cabai, puring cobra, puring dasi dan puring jari.
       Pohon Kamboja
Pohon kamboja pada awalnya sering digunakan sebagai tanaman dalam upacara keagamaan, khususnya bagian bunganya. Tetapi, kini tak jarang banyak taman – taman kota menggunakan pohon kamboja untuk memperindah taman karena warna bunganya yang cantik. Di RTH jagir sendiri pohon kamboja ini memiliki unga cantik berwarna putih dan kuning. Pohon Kamboja banyak ditanam di tepi jalan RTH ini dan menambah keindahan saat sudah muncul bunganya serta menambah kesejukan udara dari bau harum yang dikeluarkan bunga kamboja.
       Pucuk Merah
Ruang Terbuka Hijau Jagir Wonokromo ini letaknya benar-benar di tepi Kali Jagir, karena itu ditanamnya Pucuk Merah adalah sebagai penahan longsor. Tepi Kali Jagir tidak di semen hanya berupa gundukan tanah di tepi. Maka dari itu ditanamnya Pucuk Merah bukan hanya karena tanamannya yang cantik saja namun juga sebagai penahan longsor serta sebagai penyimpan air yang baik. Pucuk merah ini tentunya juga dapat menyerap karbondioksida yang mana sangat cocok di daerah perkotaan yang banyak polusi. Selain itu tanaman pucuk merah juga mengeluarkan aroma wangi yang turut menambah kesegaran di RTH Jagir ini.
       Tanaman Alocasia sp.
Tanaman alocasia merupakan tanaman hias yang sangat populer karena bentuk daunnya yang indah dan berbentuk hati. Untuk menambah keindahan pula tanaman ini ditanam di beberapa titik di RTH Jagir ini.
Selain tanaman-tanaman tersebut, adapula pohon-pohon yang ditanam di RTH Jagir untuk menambah kesan sejuk dan teduh.

Kelebihan dan Kekurangan RTH Jagir, Wonokromo
            Seperti yang telah disinggung sebelumnya RTH Jagir merupakan tempat yang sangat nyaman untuk melepaskan penat setelah seharian melakukan aktivitas. Tempatnya yang sejuk, segar dengan angin sepoi-sepoi membuat siapa saja yang mengunjungi RTH ini merasa mendapatkan kembali energy yang telah terkuras seharian. Selain itu di saat sore hari taman ini juga semakin terlihat indah karena adanya lampu-lampu taman yang dipasang di sepanjang ruang terbuka hijau ini. Dengan tempat duduk yang nyaman membuat kita juga semakin nyaman berbincang-bincang dan bercengkrama dengan teman. Selain untuk bersantai dan berbincang RTH jagir ini juga cocok sebagai tempat ber-olahraga kecil seperti joging atau sekedar meregangkan badan. Pemandangan yang bagus nan asri ditambah aliran sungai jagir yang mengalir lambat mungkin bisa membuat para seniman fotografer mempunyai ide untuk menggunakan RTH jagir ini sebagai salah satu tempat untuk mengambil hasil karya nya, juga kadang kala sebagai foto prewaid. Karena biasanya, ada beberapa fotografer yang datang di jalan jagir ini hanya untuk mengabadikan foto pintu air jagir yang merupakan salah satu bangunan peninggalan masa penjajahan belanda.
Namun, disamping itu RTH Jagir ini memiliki beberapa kekurangan contohnya, tidak adanya tempat parkir yang memadai karena  letaknya yang benar-benar berada di pinggir jalan. Untuk itu, para pengunjung RTH ini biasanya terpaksa memarkir kendaraannya di pinggir jalan meskipun telah ada rambu larangan yang terpasang. Kemudian pada pengamatan kami, kami menemukan bahwa tempat sampah yang disediakan di dalam RTH jagir  terbatas dan hanya ada beberapa saja. Kemudian kami juga melihat adanya beberapa sampah berupa bungkus – bungkus makanan ringan yang dibuang sembarangan oleh pengunjung RTH jagir ini. Hal ini sangat disayangkan karena dengan adanya RTH ini seharusnya bisa membantu dan membuat nyaman di tengah suasana perkotaan yang padat masih ada taman yang bisa kita hirup udara dengan segar. Tetapi akibat tangan cerobah manusia yang membuang sambah sembarangan disekitar taman membuat pemandangan kurang sempurna dan menyebabkan ada beberapa lalat - lalat yang hinggap di sampah-sampah yang ada di sela-sela tanaman. Dan untuk pengunjung yang membawa kendaraan bermotor harap berhati-hati apabila hendak mengunjungi RTH Jagir ini karna tidak adanya fasilitas tempat parkir dan tidak ada penjaga tukang parkir.

Kesimpulan
            Perkotaan adalah suatu daerah yang dipenuhi oleh berbagai macam tempat industri, pabrik, perkantoran, gedung-gedung pencakar langit dan juga tingkat polusi yang tinggi dan tidak ada habisnya. Pada daerah perkotaan polusi berasal dari berbagai hal mulai dari asap-asap pabrik hingga asap kendaraan bermotor. Kondisi tersebut belum lagi diperparah dengan pembangunan tanpa henti yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, akibatnya banyak masyarakat di kota-kota besar tidak dapat menikmati lingkungan yang asri dan hijau. Karena semua daerah telah dipenuhi oleh bangunan – bangunan yang tinggi dan megah.
            Untuk itu kota Surabaya berusaha untuk  terus mempercantik diri dengan menambah RTH di tengah kota. Dan saat ini bantaran kali jagirlah yang disulap menjadi taman kota dengan pemandangan kali jagir yang cukup menjadi alternatif hiburan bagi warga Surabaya. Kali jagir yang dulu identik dengan kawasan kumuh sekarang telah berubah menjadi tempat untuk bersantai menikmati suasana Kota Surabaya. Salah satu lokasi yang menjadi ruang terbuka hijau adalah sebuah taman kota yang berada di jalan Jagir Wonokromo.  
            Dari pengamatan langsung yang telah kami lakukan, kami menyimpulkan tentang apa yang dimaksud dengan pertanian perkotaan itu. menurut kami, pertanian perkotaan tidak hanya membahas tentang proses tanam – menanam yang dilakukan di kota, namun pertanian perkotaan juga merupakan bagaimana menciptakan sebuah lingkungan yang asri, sejuk dan segar melalui penataan berbagai tanaman-tanaman yang mendukung penciptaan udara segar dan pengurangan polusi di sebuah lahan yang terbatas.
Saran
            Untuk RTH Jagir sangatlah bagus dan sebagai tempat melepas penat setelah seharian bekerja, tetapi alangkah baik nya diberikan tempat parkir agar tidak parkir di tepi jalan yang akan mengganggu pengendara jalan yang melewati. Tempat parkir yang akan dibuat tidak perlu terlalu luas, hanya sekadar dapat menampung tiga atau lima kendaraan saja sudah cukup karena mengingat letaknya yang tepat di tepian jalan. Kemudian alangkah lebih baiknya untuk menambah tempat duduk dan tempat sampah agar masyarakat tidak bingung membuang sampah dan membuat mereka membuang sembarangan di sela-sela tanaman dan mengakibatkan lingkungan kotor dan tidak nyaman.


Share:

Selasa, 22 Juli 2014

Sejarah F.C Barcelona

Visca Barca! ya itulah kata kata yang sering diucapkan para fans klub sepakbola F.C Barcelona. Azulgrana(sebutan F.C Barcelona) adalah klub sepakbola besar asal kota Catalan, Spanyol. Klub ini didirikan oleh Joan Gamper pada tanggal 29 November 1899 dengan nama Foot-ball Club Barcelona.
Motto dari klub ini "Més que un club" yang artinya Lebih dari Klub. Lagu resmi klub ini adalah Cant del Barça, ditulis oleh Jaume Picas dan Josep Maria Espinas. Klub ini mempunyai ciri khas warna yang sesuai dengan bendera catalan yaitu merah dan kuning.  
Logo F.C Barcelona dari tahun ke tahun.

Barcelona dengan cepat menjelma menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di Spanyol. Klub berjuluk Alzugrana ini meraih gelar pertama pada 1902, yakni Copa Macaya. Pada tahun yang sama, Barca juga untuk pertama kalinya melaju ke partai puncak Copa del Rey. Tetapi di final mereka kalah 1-2 dari Bizcaya (Athletic Bilbao).

Barcelona sempat tak meraih gelar bergengsi karena mengalami krisis keuangan. Pada 1908, Joan Gamper diangkat sebagai Presiden klub. 14 Maret 1909, Barca pindah ke Camp de la Indústria, stadion yang memiliki kapasitas 8000 penonton. Tahun 1922 setelah lepas dari krisi keuangan Barca pindah ke Les Corts, stadion baru yang memiliki kapasitas awal 22.000 kursi dan diperluas menjadi 60.000 kursi.

Di era Joan Gamper, Barcelona mengalami masa-masa emas. Mereka sukses merebut 11 gelar Campeonato de Cataluna, 6 Copa del Rey, dan 4 Pyrenees Cup. Tahun 1928 Barca bersama dengan klub-klub lain berhasil mendirikan kompetisi divisi pertama Spanyol (La Liga). Barca sukses menjuarai edisi pertama La Liga pada musim 1928-29. Sampai sekarang Barca bersama Athletic Bilbao dan Real Madrid tercatat sebagai tim yang tak pernah terdegradasi dari La Liga.

Meskipun situasi politik tak menentu pasca Perang Dunia, Barca sempat meraih sukses di era 1940-an hingga 1950-an. Barca sukses menjuarai La Liga untuk kedua kalinya pada 1944-45. Dengan Josep Samitier dan pemain-pemain seperti César, Ramallets, dan Velasco, Barca kembali menjuarai La Liga pada 1948 dan 1949.

Stadion Camp Nou akhirnya selesai direnovasi dan siap digunakan pada 1957. Itu membuat pengeluaran untuk pembelian pemain terpakai untuk biaya renovasi stadion. Dominasi Real Madrid sempat membuat Barca kesulitan untuk kembali merebut trofi La Liga.

Pada musim 1973-74, Barca sukses mendatangkan bintang Belanda, Johan Cruyff dari Ajax Amsterdam. Kedatangan Cruyff juga diikuti bintang-bintang lainnya yakni Juan Manuel Asensi, Carles Rexach, dan Hugo Sotil. Barca pun sukses merebut gelar La Liga 1973-74.

Pada tahun 1978, Josep Lluís Núñez terpilih sebagai Presiden Barcelona. Selama 22 tahun memimpin Barca, Nunez tak ragu mendatangkan pemain-pemain bintang termasuk Diego Maradona, Romário dan Ronaldo.

Barca kemudian memiliki periode emas, era Dream Team di akhir tahun 1980-an sampai pertengahan tahun 1990-an, dimana saat itu Barca berhasil memenangkan tidak kurang dari 11 piala termasuk empat kali berturut-turut piala La Liga (1991-1994) dan memenangkan Piala Champions  untuk pertama kalinya tahun 1992. Dream team yang saat itu dilatih oleh Cruyff adalah pemain seperti Josep Guardiola, Jose Mari Bakero, Txiki Beguiristain, Gheorghe Hagi, Ronald Koeman, Michael Laudrup, Romario dan Hristo Stoichkov.

Barcelona kembali mengalami masa emas setelah Joan Laporta menjadi Presiden klub pada 2003. Laporta menunjuk Frank Rijkaard sebagai pelatih. Rijkaard sanggup membawa Barca menjuarai La Liga dua musim berturut-turut pada 2003-04 dan 2004-05. Barca juga sukses menjadi juara Liga Champions 2005-06 dengan menundukkan Arsenal di partai puncak.

Setelah mengalami kegagalan pada musim 2007-08, posisi Frank Rijkard digantikan pelatih Pep Guardiola. Pria yang sebelumnya melatih Barcelona B itu sukses merebut treble winners yakni La Liga, Liga Champions, dan Copa del Rey pada musim pertamanya. Dia juga melengkapi kedigdayaan Barca dengan meraih Piala Super Eropa, Piala Super Spanyol, dan Piala Dunia Antarklub. Itu membuat Barca menjadi tim pertama yang meraih sextuple, atau 6 gelar sekaligus dalam satu musim pada tahun 2009. Barca juga sukses menjuarai La Liga dengan mengoleksi 99 poin dari kemungkinan maksimal 114.

Guardiola melanjutkan dominasi Barca di La Liga. Musim 2009-10 dan 2010-11 Barca kembali merebut La Liga. Gelar Piala Dunia Antarklub pada akhir tahun 2011 membuat Guardiola sanggup merebut 14 gelar dari kemungkinan maksimal 16 gelar hanya dalam waktu 4 tahun.

Catatan Prestasi FC Barcelona :

4 kali juara Liga Champions (1991/92, 2005/06, 2008/09, 2010/11)

4 kali juara Piala Winners (1978/79, 1981/82, 1988/89, 1996/97)

3 kali juara Piala Fairs - sebelum Piala UEFA (1955/58, 1958/60, 1965/66)

4 kali juara Piala Super Eropa (1992, 1997, 2009, 2011)

21 kali juara Primera Liga (1928/29, 1944/45, 1947/48, 1948/49, 1951/52, 1952/53, 1958/59, 1959/60, 1973/74, 1984/85, 1990/91, 1991/92, 1992/93, 1993/94, 1997/98, 1998/99, 2004/05, 2005/06, 2008/09, 2009/10, 2010/11)

25 kali juara Copa del Rey (1909/10, 1911/12, 1912/13, 1919/20, 1921/22, 1924/25, 1925/26, 1927/28, 1941/42, 1950/51, 1951/52, 1952/53, 1956/57, 1958/59, 1962/63, 1967/68, 1970/71, 1977/78, 1980/81, 1982/83, 1987/88, 1989/90, 1996/97, 1997/98, 2008/09, 2009/10)

2 kali juara Copa de la Liga (1982/83, 1985/86)

14 kali juara Piala Super Spanyol termasuk Copa Eva Duerte (1945, 1948, 1952, 1953, 1983, 1991, 1992, 1994, 1996, 2005, 2006, 2009, 2010, 2011)

2 kali juara Latin Cup (1949, 1952)

2 kali juara Interkontinental / Piala Dunia Antarklub (2009, 2011)
Piala FC Barcelona saat dibina Pep Guardiola

Share: