Rabu, 31 Maret 2021

IMPLEMENTASI SERTA KEKURANGAN DAN KELEBIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Tugas Terstruktur Sistem Informasi Geografis

Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

 

IMPLEMENTASI SERTA KEKURANGAN DAN KELEBIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

M. Luthfi Charismanda / 19025010034

PENDAHULUAN

Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan system yang membantu menganalisis, memetakan, memanajemen, menampilkan, memanipulasi data yang yang nantinya untuk penyelesaian rencana kompleks dan permasalahan manajemen terkait dengan geografis suatu lokasi. SIG berfungsi sebagai pengolah data yang diikat dengan posisi geografi dan pemanfaatan computer untuk sarana penyimpanan dan pengolahan (Burrough, 1986).

Sistem Informasi Geografis (SIG saat ini banyak dimanfaatkan antara lain untuk pemetaan lahan pertanian, pengelolaan sumber daya alam, lingkungan (jalan, sungai, geologi dan sebagainya), perencanaan dan manajemen transportasi dikarenakan kemampuannya dalam memproses data spasial yang dapat digunakan untuk membuat peta dan menganalisis informasi didalamnya baik dalam bentuk geografis.

Teknologi sistem informasi geografis dimanfaatkan dalam investigasi sains, pengelolaan manajemen, pengembangan perencanaan, cartography, perencanaan jalan (Hocstra, 2012). Misalnya, SIG dapat membantu perencana untuk menghitung dengan cepat waktu tanggap darurat selama bencana alam (Smara et al, 2012), atau SIG dapat juga digunakan untuk menemukan lahan basah mana yang perlu untuk dilindungi dari polusi. SIG merupakan system, menyerupai perangkat keras, perangkat lunak, data, prosedur dan  konteks organisasi yang tepat yang mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, menganalisis, memodelkan dan memvisualisasikan, data spasial, untuk menyelesaikan masalah perencanaan dan manajemen (Lanto et al, 2018).

Perbedaan paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem informasi pengguna biasanya termasuk beberapa data seperti peta, transparansi untuk tumpang tindih (overlay), foto udara, laporan statistik dan survei lapangan laporan. Semua data dikumpulkan dan dianalisis secara manual tanpa peralatan komputer. Sementara Geografis otomatis Sistem informasi telah menggunakan komputer sebagai sistem pengolah data melalui proses digitasi. Sumber data dapat berupa citra satelit digital atau foto udara digital dan foto udara digital. Data lain dapat berupa peta dasar digital (Rob, 2013).

Kemunculan Sistem Informasi Geografis ini memberikan dampak yang sangat besar. Sistem Informasi geografis mampu memecahkan berbagai permasalahan yang mungkin di masa lalu adalah hal sangat sulit dan memerlukan proses yang panjang dengan tingkat akurasi yang bisa dibilang rendah. Jika dilihat dari bidang pertanian saja, SIG ini sangat membantu dalam pemetaan tanah, mengolah data terkait lahan dan sebagainya. Informasi spasial yang dihasilkan oleh SIG inilah yang dibutuhkan dalam bidang pertanian untuk mengevaluasi, merencanakan, mengolah lebih terstruktur dan tepat. Hal yang penting untuk diperhatikan bahwa fokus penggunaan SIG lebih dikonsentrasikan pada analisis pokok permasalahan yang dikaji dan di implementasikan dengan baik.

IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

            Sistem Informasi Geografis dalam pengimplementasiannya untuk saat ini masih sangat baik. Contoh yang bisa dilihat adalah pada permasalahan pertanian. Dengan adanya perkembangan zaman, perubahan geografis, perubahan iklim dan sebagainya membuat seluruh bidang di dunia ikut bergerak, berevolusi, bahkan merevolusi baik dari segi metode pengerjaan, pengembangan metode dan sebagainya. Teknologi Pertanian Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan ini sejalan dengan tuntutan global yang memang memaksa Indonesia harus membuat banyak perubahan dalam bidang teknologi pertanian. Perkembangan ini meliputi proses produksi di hulu hingga pengolahan di hilir. Banyak aplikasi teknologi yang digunakan dalam industry pertanian modern di Indonesia yang bertujuan untuk mencapai hasil yang tinggi dengan biaya produksi yang rendah serta dapat mengurangi dampak pada lingkungan. Mengatasi permasalahan tersebut maka diperlukan precision farming karena sumber daya produksi pertanian terbatas (sumber daya air, tanah, pupuk, manusia dan factor produksi lainnya) sudah berkurang baik dari segi kualitas dan kuantitas. Berbagai faktor yang dianggap bertanggung jawab terhadap penurunan kualitas dan kuantitas antara lain : jumah penduduk yang semakin bertambah, penggunaan lahan pertanian untuk penggunaan bukan pertanian, erosi dan degradadi lahan, dan berbagai sebab lain yang menjadikan lahan mengalami penurunan kualitas dan kuantitas.

            Berbicara perihal pertanian presisi akan berhubungan dengan presisi lokasi, dan SIstem Informasi Geografis. Sistem Informasi Geografis akan berkaitan dengan variable tingkat pupuk, pemetaan hasil panen, variable tingkat pengolahan, variable tingkat penanaman, variable tingkat irigasi, variabilitas sifat-sifat tanah, zone homogeny untuk pengolahan pertanian presisi.

Dari hubungan hubungan tersebut untuk penilaian variabilitas menjadi aspek mendasar dalam pertanian presisi karena tahap ini akan menentukan tahap-tahap selanjutnya. Sistem Informasi Geogrfais (SIG) telah banyak diterapkan untuk penilaian variabilitas (Kavianpoor, et al, 2012: Patil, et al, 2011; Sivarajan, et al, 2013, Zandi, et al, 2012). Berbagai studi tersebut memiliki tujuan terutama untuk mengetahui hubungan antara sifat-sifat tanah dengan pertumbuhan dan produktifitas tanaman. Beberapa sifat tanah yang dianalisis misalnya : pH. C Organik, kapasitas lapang, kapasitas layu (wilting point), daya hantar listrik, fospor, nitrogen, dan sifat-sifat tanah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan dan produktifitas tanaman.

Menurut Robinson dan Metternichter (2006), berbagai teknik analisis dalam Sistem Informasi Geografis sudah, sedang dan nampaknya akan terus digunakan, anatara lain teknik interpolasi kriging, spline, dan inverse distance weighting. Dari berbagai stdui tersebut juga memberikan kesimpulan bahwa tidak ada satu teknikpun yang dapat berlaku menyeluruh, dan pemilihan teknik interpolasi yang digunakan akan sangat tergantung pada kondisi variabilitas sifat-sifat tanah di lapang.

Dari penjelasan diatas bisa dilihat bahwa sebenarnya untuk mencapai pertanian presisi diperlukan data yang sangat banyak dan bervariasi. Banyaknya data dan bervariasi tersebut dikarenakan dalam pertanian presisi berkaitan dengan data spasial dan data temporal. Kemampuan SIG dalam melakukan berbagai analisis data keruangan serta kemampuan dalam menyimpan data dalam jumlah yang besar telah membuat SIG alat yang handal dalam pertanian presisi, seperti dikemukakan oleh Pierce dan Nowak (1999) yang menyatakan bahwa karena kenyataan bahwa pertanian presisi berhubungan dengan variabel-variabel keruangan dan temporal dan karena pertanian presisi merupakan sistem pertanian berbasis data maka kemampuan analisis keruangan SIG lah yang memungkinkan pertanian presisi.

Contoh lain dalam pengimplementasian Sistem Informasi Geografis adalah dalam penggunaannya untuk pemetaan hasil sumber daya hutan dan reboisasi. Untuk melakukan pengontrolan, pengawasan, pengurusan, pengusahaan, perlindungan hutan tidak mungkin hanya memanfaatkan tenaga manusia. Dari sini SIG berperan untuk membantu memetakan mana wilayah yang perlu pengawasan tinggi, wilayah yang perlu direboisasi, wilayah yang dapat menghasilkan produksi sumber daya hutan. Pemetaan wilayah berdasarkan ketinggian tanah, iklim yang nantinya akan disesuaikan dengan pohon-pohon yang ditanam di daerah tersebut. Dengan teknik overlay (tumpang tindih peta) akan dilakukan pengecekan apakah sudah sesuai pohon-pohon tersebut atau belum sesuai, dengan di overlay dengan peta ketinggian tanah dan daerah rawan longsor, sehingga diketahui pohon mana yang cocok ditanam di kawasan yang akan diamati. Dari hasil teknik overlay tadi akan menghasilkan peta rencana reboisasi yang dapat di jadikan acuan untuk reboisasi yang akan dilakukan guna mendapatkan hasil produksi.

IMPLEMENTASI MASYARAKAT

Dengan datangnya sebagian besar teknologi baru juga muncul potensi dampak, baik positif maupun negatif, pada masyarakat di mana teknologi tersebut digunakan. Sistem Informasi Geografis tidak ada bedanya. Misalnya, Sistem Informasi Geografis telah digunakan selama beberapa tahun di negara maju seperti Amerika Serikat dan Britania Raya untuk aplikasi politik dan kebijakan publik. Karena teknologi SIG menyebar ke lebih banyak pemerintah dan organisasi bisnis, peningkatan manfaat sosial yang diperoleh dari pengambilan keputusan dan perencanaan yang lebih efisien dan efektif harus direalisasikan. Misalnya, salah satu penulis [BEM] saat ini bekerja dengan Institut Pelatihan Informasi Pasar Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja untuk membawa Sistem Informasi Geografis ke kantor Keamanan Ketenagakerjaan Negara. Sistem Informasi Geografis dicari oleh agen-agen ini untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada para pengangguran dan memberikan pekerjaan di setiap negara bagian.

Demikian juga, karena SIG menyebar ke negara-negara terbelakang, penelitian harus berfokus pada bagaimana perbedaan budaya, aksesibilitas data, pendidikan pengguna, dan sistem politik mempengaruhi penggunaan, efektivitas, dan difusi SIG (Rhind, 1992)

Selain itu, karena SIG semakin banyak digunakan di sektor publik, masyarakat juga harus mendapatkan keuntungan karena peningkatan akses dan ketersediaan data yang dihasilkan melalui lembaga sektor publik. Misalnya, data yang dihasilkan oleh Biro Sensus telah menjadi dasar, dan pendorong di balik banyak pertumbuhan baru-baru ini dalam penggunaan SIG di Amerika Utara. Penelitian masa depan harus fokus pada bagaimana penggunaan SIG sektor publik dan produksi data mempengaruhi sektor swasta dan bagaimana organisasi mengelola proses pengimplementasiannya.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Teknologi Sistem Informasi Geografis dalam bidang teknik lingkungan banyak digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah proses pengambilan keputusan terkait dengan pengelolaan lingkungan yang menyangkut wilayah, geospasial dan sebagainya. Berbagai masalah lingkungan yang kompleks dapat disajikan secara lebih sistematik dan mudah dipahami, karena kunci utama Sistem Informasi Geografis adalah semua objek dipermukaan bumi memiliki koordinat sebagai referensi lokasi. Teknologi SIG juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah lingkungan secara lebih cepat, sehingga analisis masalah lingkungan juga dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien. Hal terpenting dari beberapa kelebihan SIG dibidang teknik lingkungan adalah kemampuanya dalam memberikan beberapa alternatif untuk menyelesaikan masalah-masalah lingkungan, tepat pada akar permasalahanya. Banyak sekali seperti yang sudah dipaparkan diatas implementasinya dari segi pertanian dan kehutanan. Dalam segi kepemerintahan, untuk memetakan perusahaan, memetakan wilayah tentu sangat berguna dengan tingkat akurasi yang dikerjakan system juga pasti.

Terlepas dari banyak sekali implementasi Sistem Informasi Geografis, pun tetap Sistem Informasi Geografis memiliki kekurangan. Banyak sekali apalagi di negara berkembang seperti Indonesia yang masih sedikit asing dengan kemajuan teknologi apalagi dalam penerapannya. Sistem Informasi Geografis memang dijadikan alternatif untuk pemecahan-pemecahan masalah lingkungan yang ada, mungkin bisa jadi tepat pada akarnya. Jika dikatakan efektif, Sistem Informasi Geografis ini sangat efektif dan efisien terhadap waktu. Namun, yang jadi kendala diantara lain adalah ketersediaan database, penguasaan manusia dalam mengelola perangkat lunak (software) serta kemampuan analisis spasial terhadap hasil. Selain itu, penting juga diperhatikan bahwa ketersediaan database yang relevan dengan topik teknik lingkungan, tutorial penggunaan software, contoh studi kasus, dan contoh teknik analisis, perlu dipersiapkan secara lengkap dan sistematis agar mudah digunakan dan dipelajari.

Dengan meningkatnya penggunaan SIG dan aksesibilitas data, muncul potensi dampak negatif bagi masyarakat. Misalnya, masalah yang berkaitan dengan kesalahan dan misrepresentasi data spasial dan data demografis berpotensi mengakibatkan tanggung jawab hukum bagi pemasok dan pengguna data (Epstein, 1991). Selain itu, peningkatan akses ke data yang berkaitan dengan warga negara dan organisasi sektor swasta juga berpotensi menyebabkan penyalahgunaan dan misrepresentasi.

Kendala terakhir terkait dengan kemajuan teknologi penginderaan jauh (remote sensing). Penginderaan jauh menyediakan banyak sekali variasi data lingkungan, mulai dari data iklim, relief, vegetasi, penutup lahan, jaringan jalan, jaringan sungai, dan masih banyak lagi data lainya. Namun, dalam proses pengambilan variasi data memerlukan data yang sangat banyak, cara memperoleh data yang sulit dan butuh waktu yang lama, belum lagi diterpa dengan biaya yang tempuh untuk mendapatkan data-data variablenya. Hal ini akan jadi pertanyaan bagi orang-orang yang hendak menggunakan metode Sistem Informasi Geografis ini apalagi untuk orang yang tidak spesialis teknologi Sistem Informasi Geografis. Oleh karena itu, penyediaan fasilitas untuk menunjang informasi-informasi tentang data penginderaan jauh juga menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Pada masa yang akan datang, penggunaan teknologi Sistem Informasi Geografis menjadi salah satu kunci penting untuk menyelesaikan permasalan-permasalahan lingkungan yang semakin komplek dihadapi. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki teknologi Sistem Informasi Geografis, diharapkan penyelesaian permasalahan lingkungan dapat terlaksana dengan lebih efektif dan efisien. Namun perlu juga diperhatikan bahwa harus ada upaya yang sistematis untuk mengatasi kendala dan kelemahan Sistem Informasi Geografis bagi pengguna yang bukan merupakan spesialis teknologi Sistem Informasi Geografis.

KESIMPULAN

SIG penting karena kemungkinan besar akan menjadi bagian integral dari banyak sistem informasi. Sebagian besar masalah di berbagai bidang (terutama pertanian) mencakup data spasial yang signifikan, sehingga SIG merupakan alat yang ampuh yang dapat digunakan untuk membantu mengambil keputusan yang nantinya mengajukan dan menjawab pertanyaan yang tidak dapat mereka tangani sebelumnya. Karena teknologi ini terus menyebar ke sektor swasta, para peneliti sistem informasi harus siap menyumbangkan keahlian mereka untuk menghasilkan pemahaman yang lebih baik tentang teknologi ini.

Implementasi Sistem Informasi Geografis sangat banyak dan memiliki dampak yang sangat besar pula. Sistem Informasi bergerak cepat di berbagai sector, namun hanya sedikit orang yang aktif  melakukan riset perihal system informasi dan teknologinya. Perlu diperbanyak perihal penelitian agar lebih banyak lagi informasi tentang pengelolaan Sistem Informasi Geografis melalui tahap implementasi dan operasional dari siklus hidupnya. Selain itu, penelitian perlu mengkaji masalah yang terkait dengan dampak organisasi dari SIG, masalah kolaboratif, efektivitas pengambilan keputusan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan kognisi manusia. Terakhir, banyak yang perlu dilakukan untuk memeriksa dampak sosial dari GIS di negara maju dan berkembang.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

D. Hocstra and P. Mattejat, "Manage Drainage Infrastructure," Public Work, vol. 133, no. 5, 2012.

Epstein, E.F. (1991). Legal aspects of GIS. in D.J.Maguire, M.F.Goodchild, & D.W. Rhind (eds.), Geographic Information Systems: Principles and Applications, Vol. 1, London: Longman Scientific & Technical, 489-502.

M. Rob, "Application of Geographical Information Systems in Understanding Spatial Distribution of Asthma," Informing Science Journal, vol. 6, no. 1, 2013

N. Lanto, L. Hadjaratie and S. Suhada, "The Influence of Organizational Culture in Application of Information Technology Governance," Journal of Information System Engineering and Business Intelligence, vol. 4, no. 1, April 2018.

Rhind, D. (1992). Data access, charging and copyright and their implications for geographical information systems. International Journal of Geographical Information Systems, (6:1), 13-30

Y. Smara and et.al, "Application of SIG and Remote Sensing Technologies in Disasters Management in Algeria," International Journal of Innovative Research in Science, vol. Vol. 1, no. Issue 10, 2012.

  

Share:

0 komentar:

Posting Komentar