PENGERTIAN DAN MANFAAT SIG DI BIDANG PERTANIAN
KELAS: AGROTEKNOLOGI A 2019
NAMA KELOMPOK:
- M LUTHFI CHARISMANDA (19025010034)
- DIAN AJENG SAFITRI (19025010040)
- TRI YULI ANITA (19025010043)
PENGERTIAN DAN MANFAAT SIG DI BIDANG PERTANIAN
KELAS: AGROTEKNOLOGI A 2019
NAMA KELOMPOK:
- M LUTHFI CHARISMANDA (19025010034)
- DIAN AJENG SAFITRI (19025010040)
- TRI YULI ANITA (19025010043)
Tugas
Terstruktur Sistem Informasi Geografis
Program
Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
IMPLEMENTASI
SERTA KEKURANGAN DAN KELEBIHAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
M. Luthfi Charismanda / 19025010034
PENDAHULUAN
Sistem
Informasi Geografi (SIG) merupakan system yang membantu menganalisis,
memetakan, memanajemen, menampilkan, memanipulasi data yang yang nantinya untuk
penyelesaian rencana kompleks dan permasalahan manajemen terkait dengan
geografis suatu lokasi. SIG berfungsi sebagai pengolah data yang diikat dengan
posisi geografi dan pemanfaatan computer untuk sarana penyimpanan dan
pengolahan (Burrough, 1986).
Sistem
Informasi Geografis (SIG saat ini banyak dimanfaatkan antara lain untuk
pemetaan lahan pertanian, pengelolaan sumber daya alam, lingkungan (jalan,
sungai, geologi dan sebagainya), perencanaan dan manajemen transportasi
dikarenakan kemampuannya dalam memproses data spasial yang dapat digunakan
untuk membuat peta dan menganalisis informasi didalamnya baik dalam bentuk
geografis.
Teknologi
sistem informasi geografis dimanfaatkan dalam investigasi sains, pengelolaan
manajemen, pengembangan perencanaan, cartography,
perencanaan jalan (Hocstra, 2012). Misalnya, SIG dapat membantu perencana untuk
menghitung dengan cepat waktu tanggap darurat selama bencana alam (Smara et al, 2012), atau SIG dapat juga
digunakan untuk menemukan lahan basah mana yang perlu untuk dilindungi dari
polusi. SIG merupakan system, menyerupai perangkat keras, perangkat lunak,
data, prosedur dan konteks organisasi
yang tepat yang mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, menganalisis, memodelkan
dan memvisualisasikan, data spasial, untuk menyelesaikan masalah perencanaan
dan manajemen (Lanto et al, 2018).
Perbedaan
paling mendasar terletak pada cara pengelolaannya. Sistem informasi pengguna
biasanya termasuk beberapa data seperti peta, transparansi untuk tumpang tindih
(overlay), foto udara, laporan statistik dan survei lapangan laporan. Semua
data dikumpulkan dan dianalisis secara manual tanpa peralatan komputer.
Sementara Geografis otomatis Sistem informasi telah menggunakan komputer
sebagai sistem pengolah data melalui proses digitasi. Sumber data dapat berupa
citra satelit digital atau foto udara digital dan foto udara digital. Data lain
dapat berupa peta dasar digital (Rob, 2013).
Kemunculan
Sistem Informasi Geografis ini memberikan dampak yang sangat besar. Sistem
Informasi geografis mampu memecahkan berbagai permasalahan yang mungkin di masa
lalu adalah hal sangat sulit dan memerlukan proses yang panjang dengan tingkat
akurasi yang bisa dibilang rendah. Jika dilihat dari bidang pertanian saja, SIG
ini sangat membantu dalam pemetaan tanah, mengolah data terkait lahan dan
sebagainya. Informasi spasial yang dihasilkan oleh SIG inilah yang dibutuhkan
dalam bidang pertanian untuk mengevaluasi, merencanakan, mengolah lebih
terstruktur dan tepat. Hal yang penting
untuk diperhatikan bahwa fokus penggunaan SIG lebih dikonsentrasikan pada
analisis pokok permasalahan yang dikaji dan di implementasikan dengan baik.
IMPLEMENTASI SISTEM
INFORMASI GEOGRAFIS
Sistem Informasi Geografis dalam pengimplementasiannya
untuk saat ini masih sangat baik. Contoh yang bisa dilihat adalah pada
permasalahan pertanian. Dengan adanya perkembangan zaman, perubahan geografis,
perubahan iklim dan sebagainya membuat seluruh bidang di dunia ikut bergerak,
berevolusi, bahkan merevolusi baik dari segi metode pengerjaan, pengembangan
metode dan sebagainya. Teknologi Pertanian Indonesia berkembang dengan sangat
pesat. Perkembangan ini sejalan dengan tuntutan global yang memang memaksa
Indonesia harus membuat banyak perubahan dalam bidang teknologi pertanian.
Perkembangan ini meliputi proses produksi di hulu hingga pengolahan di hilir.
Banyak aplikasi teknologi yang digunakan dalam industry pertanian modern di
Indonesia yang bertujuan untuk mencapai hasil yang tinggi dengan biaya produksi
yang rendah serta dapat mengurangi dampak pada lingkungan. Mengatasi
permasalahan tersebut maka diperlukan precision
farming karena sumber daya produksi pertanian terbatas (sumber daya air,
tanah, pupuk, manusia dan factor produksi lainnya) sudah berkurang baik dari
segi kualitas dan kuantitas. Berbagai faktor yang dianggap bertanggung jawab
terhadap penurunan kualitas dan kuantitas antara lain : jumah penduduk yang
semakin bertambah, penggunaan lahan pertanian untuk penggunaan bukan pertanian,
erosi dan degradadi lahan, dan berbagai sebab lain yang menjadikan lahan
mengalami penurunan kualitas dan kuantitas.
Berbicara perihal pertanian presisi akan berhubungan
dengan presisi lokasi, dan SIstem Informasi Geografis. Sistem Informasi Geografis
akan berkaitan dengan variable tingkat pupuk, pemetaan hasil panen, variable
tingkat pengolahan, variable tingkat penanaman, variable tingkat irigasi,
variabilitas sifat-sifat tanah, zone homogeny untuk pengolahan pertanian
presisi.
Dari hubungan
hubungan tersebut untuk penilaian variabilitas menjadi aspek mendasar dalam
pertanian presisi karena tahap ini akan menentukan tahap-tahap selanjutnya. Sistem
Informasi Geogrfais (SIG) telah banyak diterapkan untuk penilaian variabilitas (Kavianpoor,
et al, 2012: Patil, et al, 2011; Sivarajan, et al, 2013, Zandi, et al, 2012). Berbagai
studi tersebut memiliki tujuan terutama untuk mengetahui hubungan antara
sifat-sifat tanah dengan pertumbuhan dan produktifitas tanaman. Beberapa sifat
tanah yang dianalisis misalnya : pH. C Organik, kapasitas lapang, kapasitas
layu (wilting point), daya hantar listrik, fospor, nitrogen, dan sifat-sifat
tanah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan dan
produktifitas tanaman.
Menurut
Robinson dan Metternichter (2006), berbagai teknik analisis dalam Sistem
Informasi Geografis sudah, sedang dan nampaknya akan terus digunakan, anatara
lain teknik interpolasi kriging, spline,
dan inverse distance weighting. Dari
berbagai stdui tersebut juga memberikan kesimpulan bahwa tidak ada satu teknikpun
yang dapat berlaku menyeluruh, dan pemilihan teknik interpolasi yang digunakan akan
sangat tergantung pada kondisi variabilitas sifat-sifat tanah di lapang.
Dari
penjelasan diatas bisa dilihat bahwa sebenarnya untuk mencapai pertanian
presisi diperlukan data yang sangat banyak dan bervariasi. Banyaknya data dan
bervariasi tersebut dikarenakan dalam pertanian presisi berkaitan dengan data
spasial dan data temporal. Kemampuan SIG dalam melakukan berbagai analisis data
keruangan serta kemampuan dalam menyimpan data dalam jumlah yang besar telah
membuat SIG alat yang handal dalam pertanian presisi, seperti dikemukakan oleh
Pierce dan Nowak (1999) yang menyatakan bahwa karena kenyataan bahwa pertanian
presisi berhubungan dengan variabel-variabel keruangan dan temporal dan karena
pertanian presisi merupakan sistem pertanian berbasis data maka kemampuan
analisis keruangan SIG lah yang memungkinkan pertanian presisi.
Contoh
lain dalam pengimplementasian Sistem Informasi Geografis adalah dalam penggunaannya
untuk pemetaan hasil sumber daya hutan dan reboisasi. Untuk melakukan
pengontrolan, pengawasan, pengurusan, pengusahaan, perlindungan hutan tidak
mungkin hanya memanfaatkan tenaga manusia. Dari sini SIG berperan untuk
membantu memetakan mana wilayah yang perlu pengawasan tinggi, wilayah yang
perlu direboisasi, wilayah yang dapat menghasilkan produksi sumber daya hutan.
Pemetaan wilayah berdasarkan ketinggian tanah, iklim yang nantinya akan
disesuaikan dengan pohon-pohon yang ditanam di daerah tersebut. Dengan teknik overlay (tumpang tindih peta) akan dilakukan
pengecekan apakah sudah sesuai pohon-pohon tersebut atau belum sesuai, dengan
di overlay dengan peta ketinggian tanah dan daerah rawan longsor, sehingga
diketahui pohon mana yang cocok ditanam di kawasan yang akan diamati. Dari
hasil teknik overlay tadi akan menghasilkan peta rencana reboisasi yang dapat
di jadikan acuan untuk reboisasi yang akan dilakukan guna mendapatkan hasil produksi.
IMPLEMENTASI MASYARAKAT
Dengan
datangnya sebagian besar teknologi baru juga muncul potensi dampak, baik
positif maupun negatif, pada masyarakat di mana teknologi tersebut digunakan. Sistem
Informasi Geografis tidak ada bedanya. Misalnya, Sistem Informasi Geografis telah
digunakan selama beberapa tahun di negara maju seperti Amerika Serikat dan
Britania Raya untuk aplikasi politik dan kebijakan publik. Karena teknologi SIG
menyebar ke lebih banyak pemerintah dan organisasi bisnis, peningkatan manfaat
sosial yang diperoleh dari pengambilan keputusan dan perencanaan yang lebih
efisien dan efektif harus direalisasikan. Misalnya, salah satu penulis [BEM]
saat ini bekerja dengan Institut Pelatihan Informasi Pasar Tenaga Kerja
Departemen Tenaga Kerja untuk membawa Sistem Informasi Geografis ke kantor Keamanan
Ketenagakerjaan Negara. Sistem Informasi Geografis dicari oleh agen-agen ini
untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada para pengangguran dan
memberikan pekerjaan di setiap negara bagian.
Demikian
juga, karena SIG menyebar ke negara-negara terbelakang, penelitian harus
berfokus pada bagaimana perbedaan budaya, aksesibilitas data, pendidikan
pengguna, dan sistem politik mempengaruhi penggunaan, efektivitas, dan difusi SIG
(Rhind, 1992)
Selain
itu, karena SIG semakin banyak digunakan di sektor publik, masyarakat juga harus
mendapatkan keuntungan karena peningkatan akses dan ketersediaan data yang
dihasilkan melalui lembaga sektor publik. Misalnya, data yang dihasilkan oleh
Biro Sensus telah menjadi dasar, dan pendorong di balik banyak pertumbuhan baru-baru
ini dalam penggunaan SIG di Amerika Utara. Penelitian masa depan harus fokus
pada bagaimana penggunaan SIG sektor publik dan produksi data mempengaruhi
sektor swasta dan bagaimana organisasi mengelola proses pengimplementasiannya.
KELEBIHAN
DAN KEKURANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Teknologi Sistem Informasi Geografis dalam bidang teknik
lingkungan banyak digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah proses pengambilan
keputusan terkait dengan pengelolaan lingkungan yang menyangkut wilayah,
geospasial dan sebagainya. Berbagai masalah lingkungan yang kompleks dapat
disajikan secara lebih sistematik dan mudah dipahami, karena kunci utama Sistem
Informasi Geografis adalah semua objek dipermukaan bumi memiliki koordinat
sebagai referensi lokasi. Teknologi SIG juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi dan merumuskan masalah lingkungan secara lebih cepat, sehingga
analisis masalah lingkungan juga dapat dilakukan dengan lebih efektif dan
efisien. Hal terpenting dari beberapa kelebihan SIG dibidang teknik lingkungan
adalah kemampuanya dalam memberikan beberapa alternatif untuk menyelesaikan
masalah-masalah lingkungan, tepat pada akar permasalahanya. Banyak sekali
seperti yang sudah dipaparkan diatas implementasinya dari segi pertanian dan
kehutanan. Dalam segi kepemerintahan, untuk memetakan perusahaan, memetakan
wilayah tentu sangat berguna dengan tingkat akurasi yang dikerjakan system juga
pasti.
Terlepas
dari banyak sekali implementasi Sistem Informasi Geografis, pun tetap Sistem
Informasi Geografis memiliki kekurangan. Banyak sekali apalagi di negara
berkembang seperti Indonesia yang masih sedikit asing dengan kemajuan teknologi
apalagi dalam penerapannya. Sistem Informasi Geografis memang dijadikan alternatif
untuk pemecahan-pemecahan masalah lingkungan yang ada, mungkin bisa jadi tepat
pada akarnya. Jika dikatakan efektif, Sistem Informasi Geografis ini sangat
efektif dan efisien terhadap waktu. Namun, yang jadi kendala diantara lain
adalah ketersediaan database, penguasaan manusia dalam mengelola perangkat
lunak (software) serta kemampuan
analisis spasial terhadap hasil. Selain itu, penting juga diperhatikan bahwa
ketersediaan database yang relevan dengan topik teknik lingkungan, tutorial
penggunaan software, contoh studi kasus, dan contoh teknik analisis,
perlu dipersiapkan secara lengkap dan sistematis agar mudah digunakan dan
dipelajari.
Dengan
meningkatnya penggunaan SIG dan aksesibilitas data, muncul potensi dampak
negatif bagi masyarakat. Misalnya, masalah yang berkaitan dengan kesalahan dan
misrepresentasi data spasial dan data demografis berpotensi mengakibatkan
tanggung jawab hukum bagi pemasok dan pengguna data (Epstein, 1991). Selain
itu, peningkatan akses ke data yang berkaitan dengan warga negara dan
organisasi sektor swasta juga berpotensi menyebabkan penyalahgunaan dan
misrepresentasi.
Kendala
terakhir terkait dengan kemajuan teknologi penginderaan jauh (remote sensing).
Penginderaan jauh menyediakan banyak sekali variasi data lingkungan, mulai dari
data iklim, relief, vegetasi, penutup lahan, jaringan jalan, jaringan sungai,
dan masih banyak lagi data lainya. Namun, dalam proses pengambilan variasi data
memerlukan data yang sangat banyak, cara memperoleh data yang sulit dan butuh
waktu yang lama, belum lagi diterpa dengan biaya yang tempuh untuk mendapatkan
data-data variablenya. Hal ini akan jadi pertanyaan bagi orang-orang yang
hendak menggunakan metode Sistem Informasi Geografis ini apalagi untuk orang
yang tidak spesialis teknologi Sistem Informasi Geografis. Oleh karena itu,
penyediaan fasilitas untuk menunjang informasi-informasi tentang data
penginderaan jauh juga menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Pada masa yang
akan datang, penggunaan teknologi Sistem Informasi Geografis menjadi salah satu
kunci penting untuk menyelesaikan permasalan-permasalahan lingkungan yang
semakin komplek dihadapi. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki teknologi Sistem
Informasi Geografis, diharapkan penyelesaian permasalahan lingkungan dapat
terlaksana dengan lebih efektif dan efisien. Namun perlu juga diperhatikan
bahwa harus ada upaya yang sistematis untuk mengatasi kendala dan kelemahan Sistem
Informasi Geografis bagi pengguna yang bukan merupakan spesialis teknologi Sistem
Informasi Geografis.
KESIMPULAN
SIG
penting karena kemungkinan besar akan menjadi bagian integral dari banyak
sistem informasi. Sebagian besar masalah di berbagai bidang (terutama
pertanian) mencakup data spasial yang signifikan, sehingga SIG merupakan alat
yang ampuh yang dapat digunakan untuk membantu mengambil keputusan yang
nantinya mengajukan dan menjawab pertanyaan yang tidak dapat mereka tangani
sebelumnya. Karena teknologi ini terus menyebar ke sektor swasta, para peneliti
sistem informasi harus siap menyumbangkan keahlian mereka untuk menghasilkan
pemahaman yang lebih baik tentang teknologi ini.
Implementasi
Sistem Informasi Geografis sangat banyak dan memiliki dampak yang sangat besar
pula. Sistem Informasi bergerak cepat di berbagai sector, namun hanya sedikit
orang yang aktif melakukan riset perihal
system informasi dan teknologinya. Perlu diperbanyak perihal penelitian agar
lebih banyak lagi informasi tentang pengelolaan Sistem Informasi Geografis
melalui tahap implementasi dan operasional dari siklus hidupnya. Selain itu,
penelitian perlu mengkaji masalah yang terkait dengan dampak organisasi dari
SIG, masalah kolaboratif, efektivitas pengambilan keputusan, dan faktor-faktor
yang mempengaruhi persepsi dan kognisi manusia. Terakhir, banyak yang perlu
dilakukan untuk memeriksa dampak sosial dari GIS di negara maju dan berkembang.
DAFTAR
PUSTAKA
D. Hocstra and P. Mattejat,
"Manage Drainage Infrastructure," Public Work, vol. 133, no. 5,
2012.
Epstein, E.F.
(1991). Legal aspects of GIS. in D.J.Maguire, M.F.Goodchild, & D.W. Rhind
(eds.), Geographic Information Systems: Principles and Applications, Vol. 1, London:
Longman Scientific & Technical, 489-502.
M. Rob, "Application of
Geographical Information Systems in Understanding Spatial Distribution of
Asthma," Informing Science Journal, vol. 6, no. 1, 2013
N. Lanto, L. Hadjaratie and
S. Suhada, "The Influence of Organizational Culture in Application of
Information Technology Governance," Journal of Information System Engineering
and Business Intelligence, vol. 4, no. 1, April 2018.
Rhind, D. (1992). Data access,
charging and copyright and their implications for geographical information
systems. International Journal of Geographical Information Systems, (6:1),
13-30
Y. Smara and et.al,
"Application of SIG and Remote Sensing Technologies in Disasters Management
in Algeria," International Journal of Innovative Research in Science, vol.
Vol. 1, no. Issue 10, 2012.